Monday, January 01, 2007

Berhenti menjadi Gelas...

Seorang guru sufi mendatangi seorangmuridnya ketika wajahnyabelakangan ini selalu tampak murung.
"Kenapa kau selalu murung, nak?Bukankah banyak hal yang indah didunia ini?
Ke mana perginya wajahbersyukurmu?" sang Guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuhmasalah.
Sulit bagi saya untuktersenyum.
Masalah datang seperti takada habis-habisnya," jawab sangmurid muda.
Sang Guru terkekeh.
"Nak, ambil segelasair dan dua genggam garam.Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasanahatimu itu."
Si murid pun beranjak pelan tanpasemangat.
Ia laksanakan permintaangurunya itu, lalu kembali lagi membawagelas dan garam sebagaimanayang diminta."Coba ambil segenggam garam, danmasukkan ke segelas air itu," kataSang Guru.
"Setelah itu coba kau minumairnya sedikit."Si murid pun melakukannya.
Wajahnyakini meringis karena meminum airasin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru."Asin, dan perutku jadi mual," jawab simurid dengan wajah yang masihmeringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajahmuridnya yang meringiskeasinan.
"Sekarang kau ikut aku." Sang Gurumembawa muridnya ke danau di dekattempat mereka.
"Ambil garam yangtersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garamyang tersisa ke danau, tanpabicara. Rasa asin di mulutnya belumhilang. Ia ingin meludahkan rasaasin dari mulutnya, tapi takdilakukannya.
Rasanya tak sopan meludahdi hadapan mursyid, begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air danauitu," kata Sang Guru sambilmencari batu yang cukup datar untukdidudukinya, tepat di pinggirdanau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya,mengambil air danau, danmembawanya ke mulutnya lalu meneguknya.
Ketika air danau yang dingindan segar mengalir di tenggorokannya,
Sang Guru bertanyakepadanya, "Bagaimana rasanya?""Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya denganpunggung tangannya.
Tentu saja, danauini berasal dari aliran sumberair di atas sana.
Dan airnya mengalirmenjadi sungai kecil di bawah.
Dan sudah pasti, air danau ini jugamenghilangkan rasa asin yangtersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkantadi?"
"Tidak sama sekali," kata si muridsambil mengambil air danmeminumnya lagi.
Sang Guru hanyatersenyum memperhatikannya,membiarkan muridnya itu meminum airdanau sampai puas."Nak," kata Sang Guru setelah muridnyaselesai minum.

"Segala masalahdalam hidup itu seperti segenggamgaram.
Tidak kurang, tidak lebih.Hanya segenggam garam.
Banyaknyamasalah dan penderitaan yang haruskau alami sepanjang kehidupanmu itusudah dikadar oleh Allah, sesuaiuntuk dirimu.
Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurangdan tidak bertambah.
Setiap manusiayang lahir ke dunia ini pundemikian.
Tidak ada satu pun manusia,walaupun dia seorang Nabi, yangbebas dari penderitaan dan masalah."

Si murid terdiam, mendengarkan."Tapi Nak, rasa `asin' dari penderitaanyang dialami itu sangattergantung dari besarnya 'qalbu'(hati)yang menampungnya.

Jadi Nak, supayatidak merasa menderita, berhentilahjadi gelas.
Jadikan qalbu dalam dadamuitujadi sebesar danau

No comments: